Produk Oplosan Indonesia: Beras, Miras, TKW Hingga Politisi

Artikel Terkait

 http://manado.tribunnews.com/foto/berita/2011/5/9/Miras-oplosan.jpg

Ihsan Magazine - Masyarakat kita sudah tidak asing dengan pemberitaan seputar barang-barang oplosan, mulai dari minyak tanah oplosan, beras oplosan, hingga miras (minuman keras) oplosan. Oplos, biasanya dipraktikkan oleh pengusaha/pedagang untuk memperoleh untung yang sebesar-besarnya dari modal yang sekecil-kecilnya. Bagimana tidak untung, barang jelek (harga murah) dicampur barang bagus, lalu dijual dengan harga standar barang bagus.
Pengusaha yang berprinsip “yang penting untung” itu tidak pernah mempertimbangkan kerugian konsumennya. Malahan, si pengusaha cenderung merasa “bangga” karena menganggap itu bagian dari inovasi-kreatif buah kecerdikannya dalam berbisnis.

Di Indonesia ini, mirisnya, praktik bisnis barang oplosan itu bukan hanya berlaku untuk barang-barang tertentu saja, tetapi juga dipraktikkan dalam banyak bidang usaha. Sehingga, sulit rasanya untuk menjawab: Apa yang tidak bisa dioplos di negeri ini?
 
Minyak, miras, obat, dan jamu oplosan
Karena sudah terlalu sering pemberitaannya, yang diperlukan bukan ulasan lagi tapi tindakan hukum yang tegas.
 
Beras oplosan
Seorang teman bercerita (sambil promosi) tentang kualitas beras (merek baru) produksi sebuah pabrik penggilingan padi. “Luar biasa, angi dan pulen” demikian puji si teman pada awal mengonsumsi beras tersebut. Belakangan, setelah permintaan akan beras tersebut meningkat aroma angi dan rasa pulen nasi dari beras tersebut tidak lagi terasa. Setelah di teliti dengan seksama oleh si teman, butir-butir beras yang sudah hambar itu terdiri dari dua corak bentuk dan warna. Rupanya, hanya merek pada karungnya saja yang masih asli, sedangkan isinya sudah dioplos. Siapa/institusi mana yang harus melakukan pengawasan serta penindakan terhadap praktik pengoplosan sembako ini?
 
Buah oplosan
Sering saya mengalami dan mendengar orang mengeluh kecewa terhadap para pedagang buah di kaki lima. Uniknya, belum pernah ada orang (termasuk saya) yang komplain hingga melibatkan pihak berwajib terhadap kasus sperti ini. Paling-paling hanya mengumpat.
 
Mangga
Sampelnya manis luar biasa, aneh kok sampai di rumah rasanya jadi asam!
 
Duku
Tertarik dengan rasa (sampel) dan ukurannya yang relative besar-besar jadilah minta ditimbangkan 2 -3 kg. Tiba di rumah, betapa kecewanya mendapati hanya separuh dari duku tadi berukuran besar. Rupanya si penjual sengaja menaruh duku manis dan berukuran besar di lapisan atas untuk pemikat konsumen. Tetapi saat menimbang si penjual dengan “liciknya” menggunakan piring menggaruk duku-duku kecil (yang kadang berasa agak asam) di lapisan bawah.
 
Durian
Durian peraman “anyep” ditumpuk mengelilingi dua hingga tiga butir saja yang benar-benar matang. Akibatnya konsumen kerap kecewa karena sesampai di rumah durian yang dibeli boro-boro manis, malahan aroma khasnya pun tidak tercium.
 
Atlet oplosan
Seorang teman, dosen di sebuah PTN yang diangkat jadi staf ahli Pengda KONI provinsi pernah curhat dan mengeluhkan tindakan beberapa pejabat Pengda Oganisasi Olahraga dalam memilih atlet. Ada yang memilih kroni atau familinya sebagai atlet cabang olah raga tertentu yang akan meakili daerah tersebut dalam ajang PON.
Rupanya, motifnya untuk memberi kesempatan kepada si atlet ecek-ecek itu merasakan turnamen bergengsi. Dengan demikian natinya dia akan memperoleh piagam pengharagaan (syukur-syukur jika berhasil dapat medali) bahwa dia adalah atlet berprestasi di daerahnya. Piagam itu kelak berguna untuk melamar pekerjaan di Pemda, BUMN, atau BUMD. Tidak jarang juga para atlet memang dijanjikan otomatis diangkat jadi PNS Daerah bila berhasil merebut medali. Kalau atlet sudah dioplos, prestasi apa yang dapat diharap?
 
TKW Oplosan
Dalam sebulan terakhir ini nyaris setiap hari ada ulasan tentang berbagai kasus yang dialami TKW kita di luar negeri. Sejauh yang dapat kita simpulkan, berbagai kasus tresebut dipicu oleh ketidak puasan user (majikan) para TKW tersebut. Yang dikeluhkan konon, mulai dari kemampuan berbahasa TKI/W yang rendah hingga keterampilan kerja yang tidak memadai.
Apa penyebabnya? Tenyata, tidak semua PJTKI berlaku jujur. Begitu ada permintaan yang tinggi akan TKI/W mulailah mereka mencoba mencampurkan (mengoplos) TKI/W yang layak dengan yang tidak pantas, untuk mereka kirim ke negara pengguna. Ketika majikan yang telah membayar mahal kepada agen untuk tenaga yang tidak memenuhi harapan itu, wajar bila kemudian mereka jengkel.
Pelampiasannya, siapa lagi kalau bukan si TKI/ malang tersebut.
 
Politisi oplosan
Sejak merebaknya kasus korupsi wisma atlet yang melibatkan Nazarudin, publik negeri ini mendapat terminologi baru dalam bidang politik. Ada partai yang disebut sebagai Partai Kos-kosan karena partai tersebut menampung politisi dari beragam partai lain. Lantas, apa sebutan kumpulan para politisi dengan latar belakang ideologi dan integritas diri yang beragam itu? Mungkin tidak berlebihan jika disebut politisi oplosan.

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar

Silakan komen disini (silakan saja NYEPAM/NGEJUNK/BLOGWALKING) asalkan jangan mengumbar fitnah saja ^^

Cari Blog Ini

Memuat...